Langsung ke konten utama

Road to Campus


Yang namanya hidup pasti akan terus berpindah. Bumi aja berputar masa kita yang manusia mau di situ-situ aja? Aku sudah menjadi mahasiswa saat menulis artikel ini. Aku pernah merasakan bagaimana rasanya mencari perguruan tinggi yang sesuai dengan passion kita. Syukur-syukur kalau diterima lewat jalur undangan. Nah kalau udah berbagai jalur sampai-sampai jalur tikuspun udah kita coba tapi tetap gagal gimana? (Udah deh lewat jalur yang halal-halal aja. Ngapain jalur tikus dibawa-bawa). Kalau penolakan udah banyak terjadi, yang ada kita cuman pengen perguruan tinggi yang mau nampung kita. Nggak peduli deh akreditasinya apa. Tapi beda lagi sama individu yang berpegang teguh. "Pokoknya aku wajib masuk ke pintu universitas itu!", wih. Ini sekedar selayang tulisan pengalamanku, jadi semoga menginspirasi. 


Aku bersekolah di SMAN Mojoagung. Aku dan teman-teman sejawat denganku adalah 'kelinci percobaan' sedari dulu. Yang aku ingat, angkatanku adalah angkatan pertama yang melaksanakan ujian nasional 20 paket saat SMP. Dipaksa menjadi siswa aktif (sangat aktif lebih tepatnya) di kurikulum 2013 saat mulai duduk di bangku SMA. Setiap pagi Bapak/Ibu guru memasuki ruang kelas dengan kharismanya, kemudian duduk, dan duduk terus. Kami sebagai siswa harus maju presentasi dan menjelaskan materi yang tentu saja sebenarnya kami sendiri belum jelas mengerti apa maksud materi itu. Mereka yang duduk menyaksikan, persetan dengan aksi kami di depan kelas. Sebagian besar dari mereka lebih memilih melakukan 'ritual' download film. Sesekali mereka berteriak dan memasang muka nanar karena Wifi dengan tidak sopannya putus secara tiba-tiba. 

 Setelah selesai presentasi, sang guru akan memberikan apresiasi dan kemudian mempersilahkan kami untuk duduk. Begitulah waktu berlalu dengan tidak mengesankan. Tapi tidak sedikit juga para guru menjelaskan dengan berapi-api. Memberikan pertanyaan-pertanyaan tajam dan siap melempari kami dengan berbagai kalimat pisau jika gagal menjawab. Tapi tidak selamanya aku akan seperti ini. Waktu itu kurikulum 2013. Ada peraturan baru untuk penentuan peserta SNMPTN. Untuk sekolah yang mempunyai akreditasi A seperti sekolahku, hanya 75% siswa yang berhak mengikuti seleksi SNMPTN. Sisanya? Mereka merasa kalah sebelum berperang. Aku sendiri adalah pribadi yang dingin waktu itu. Ternyata, aku termasuk siswa yang berhak mengikuti seleksi SNMPTN. Aku merasa tertusuk akan nasib teman-temanku yang tidak mendapatkan 'hak' untuk itu. Namun itu hanya berlangsung sekejap. Esoknya aku sudah tidak peduli lagi. Untuk bisa menjadi peserta SNMPTN sendiri banyak hal yang harus dilakukan. Mulai dari upload nilai rapot, verifikasi, sampai finalisasi. Aku sendiri bingung jurusan apa yang harus aku ambil. Akhirnya aku memilih Psikologi UB di pilihan pertama, Pendidikan Geografi UM di pilihan kedua, dan Pendidikan Bahasa Inggris UNESA di pilihan ketiga. Ini benar-benar tidak sesuai pengharapanku. Tapi kalau aku memaksa menembus UI atau UGM tanpa piagam di tangan dan dengan nilai yang biasa saja macam ini, rasanya tidak mungkin. Terlebih lagi akreditasi Psikologi UB waktu itu adalah C. Apa mau dikata, aku hanya ingin bisa berkuliah. Tapi tetap, hati ini keras untuk dipaksa. Ah tapi ya sudahlah, aku tetap harus melakukan prosedur pendaftaran seperti yang telah ditentukan. Aku sudah selesai melakukan upload nilai saat itu. 

Suatu malam aku bermimpi melihat jariku menuliskan "Ikatan Dinas" di pilihan pertama dan kedua. Disusul dengan UGM di pilihan ketiga. Saat terbangun aku membodohi diriku sendiri. Mana mungkin ada option Ikatan Dinas di jalur SNMPTN?. Hari demi hari akhirnya sampai di Ujian Sekolah. Ujian dilakukan dengan basis komputer. Setelah ujian berjalan beberapa hari, aku kembali didatangi suatu mimpi lagi. Di dalam mimpi itu jelas dikatakan bahwa aku GAGAL SNMPTN. Esoknya aku menceritakan pada temanku, "Hii naudzubillahiminzalik!", katanya. Ujian sekolah akhirnya selesai. Guru BK menyuruh kami mencetak kartu peserta SNMPTN untuk kemudian dikumpulkan. Saat aku log in di akun SNMPTN-ku, betapa terkejutnya bahwa aku dinyatakan belum melakukan finalisasi. Aku mencoba tenang dan menghubungi call center SNMPTN. Apa jawabnya? "Silahkan saudara/i menghubungi pihak sekolah untuk memastikan. Bila saudara/i tetap dinyatakan belum melakukan finalisasi, maka saudara/i terpaksa mundur sebagai peserta SNMPTN". Apa? Terpaksa mundur? Aku tertegun dan berjalan pelan melewati orang tuaku yang sedang nonton tv menuju toilet. Aku berdiri, membeku, dan diakhiri dengan menangis.


Namun aku tidak bisa mengatakan yang sebenarnya pada keluargaku. Aku pasti dianggap sebagai manusia bodoh yang mengecewakan. Esoknya aku menceritakan hal ini pada Danik dan Nadhir, teman sekelasku. Mereka mencoba menguatkan. Tapi anehnya kekecewaan ini tidak berjalan lama. Hanya satu hari. Ya, satu hari. Aku lalu mengambil jalan positif. Kalau aku dinyatakan mundur dari SNMPTN sekarang, berarti aku masih punya banyak waktu untuk menghadapi SBMPTN kan? Toh mereka yang menjadi peserta SNMPTN juga belum tentu lolos. Aku mencoba menegakkan kaki dan hati. Begitu juga saat ketua kelas menagih kartu peserta SNMPTN-ku karena dia belum tau kalau aku sudah gagal sebelum berperang. Aku bersikeras akan mengumpulkan sendiri ke BK. Padahal nyatanya tidak ada yang bisa aku kumpulkan. Di BK, aku mengatakan yang sebenarnya pada guruku. Namun esoknya, berita tentang kebodohanku tidak melakukan finalisasi menyebar ke sudut-sudut kelas. Bahkan ke sudut kantin sekalipun. Aku bisa dicap cukup bodoh mengingat mereka terbiasa menilaiku sebagai seseorang yang kompetitif. Mereka bilang, semua peringkat yang aku punya tidak berguna lagi. Di saat seperti ini aku tak bisa apa-apa lagi. Aku menyerah di hadapan Dia Yang Maha Besar. Aku hanya diam saat mereka membicarakanku lagi dan lagi. KepadaNya aku memohon maaf atas semua sikapku. Aku memohon jalan keluar dan aku mencoba sadar bahwa takdirNya lebih hebat dari cita-citaku. Suatu hari aku melihat poster pendaftaran jalur Penelusuran Bibit Unggul UGM. Aku daftar saja. Aku mengambil prodi D3 Manajemen dan D3 Penginderaan Jauh jalur PBUSMAK. Aku meminta uang pendaftaran sebesar 250.000 pada orang tuaku. Aku juga mendaftar di politeknik jalur PMDK. Selain itu, aku mengikuti tes STAN di Malang dengan berbekal uang sekitar dua ratus ribu lebih. Aku lupa nilai pasnya. Kemudian aku juga mengajukan diri di SBMPTN dengan membayar 200 ribu. Aku merasa membuang-buang uang orang tuaku untuk kesalahan fatal yang aku buat sendiri. Tapi kenapa aku tetap merasa sangat dan sangat malas untuk belajar demi STAN dan SBMPTN? Entahlah. Aku hanya tertuju pada UGM waktu itu. Hanya UGM dan Politeknik yang menggunakan jalur rapot sebagai pintu gerbangku. Sebenarnya aku masih bisa mengikuti Ujian Tulis yang diselenggarakan UGM namun sekali lagi, aku tak bisa belajar untuk itu. Aku hanya terfokus pada Ujian Nasional yang akan diadakan sebentar lagi.


Aku mencoba beribadah sebisaku. Seperti biasa bila suasana menjadi genting, aku mulai bernazar yang isinya tidak bisa aku ungkapkan di sini. Aku tidak menceritakan pada sembarang orang bahwa aku mendaftar di UGM. Hanya keluarga dan tiga teman baikku yang tau aku kesana. Aku tidak mau berkoar sebelum terbukti. Aku sangat berharap bisa lolos. Hari itu aku berdoa entah berapa lama. Dalam doaku aku selalu bertanya apakah aku mampu menembus UGM? Ya Allah tolong beri tau aku. Kemudian aku membuka akun facebook dan melihat logo UGM di timelineku. "Mari bergabung dengan kami..", begitu kata kalimat yang hadir bersama logo itu. Aku sempat sangat senang. Apakah ini jawabannya?. Akhirnya tanggal 25 Mei yang ditunggu-tunggu itu tiba. Aku begadang untuk melihat pengumuman STAN dan UGM jam 00.00 WIB nanti. Aku merebahkan kakiku dan menyandarkan punggung di dinding kamar sambil memegang erat laptop hitamku. Sekarang.. sudah pukul 00.00, aku memutuskna untuk melihat pengumuman UGM terlebih dahulu. "Maaf saudara/i tidak lolos seleksi" Apa ini? Aku merasa jatuh sejatuh jatuhnya. Aku tidak perlu melihat pengumuman STAN karena pasti aku tidak lolos juga. Malam itu, aku tidur dengan air mataku. Yang pertama kali kuberi tau adalah kakakku. Dia malah meledekku habis-habisan. Aku tidak akan bisa kuliah katanya. Paginya aku bertanya bagaimana hasil teman-temanku lainnya yang juga mendaftar di UGM. "Hah? Kamu nggak lolos? pengumumannya bukannya ntar jam 8 malem ya? Di akunku bilang jam 8 malem kok!", celotehnya. Ya. Waktu pendaftaran kami berbeda. Aku melakukan finalisasi terlebih dahulu dan sudah jauh-jauh hari lamanya. Pantas saja aku menerima pengumuman itu duluan. Aku sudah melupakan UGM. Aku mulai bersiap di jalan terakhirku, SBMPTN. Orang tuaku, terlebih ayahku, sangat kecewa. Lalu mau kemana lagi aku? katanya. Sudah tiga hari semenjak pengumuman menyakitkan itu. Saat itu pukul 01.00 dini hari. Aku membuka situs SBMPTN. Tiba-tiba sebuah pikiran lewat di otakku. Aku iseng membuka tab pencarian baru. Dan aku mencoba masuk ke akun pendaftaran UGM yang pernah aku miliki. "Pengumuman Penerimaan Mahasiswa Baru jalur PBU bisa diakses mulai pukul 20.00 wib pada 25 mei 2016" Omong kosong, pikirku. Tapi saat aku membuka ulang hasil pengumumanku yang dulu, isinya berubah menjadi seperti ini:


Aku benar-benar membeku. Apa maksudnya ini? Aku lalu mereload tab browser berkali-kali. Tapi hasilnya tetap sama. Dan begitulah aku menjadi mahasiswa baru di UGM. Terimakasih untuk Allah swt dengan skenario terbaiknya. Terimakasih kepada kakakku, Nur Laila Ulfa, yang mengantarku tes di jauh sana dengan motor dan uang tipisnya. "Mau makan apa?","Mau nonton AADC 2 nggak?","Mau kemana lagi ini?". Terimakasih atas segala kalimat yang membuatku merasa tidak sendiri. Akupun juga telah memaafkan kata-kata menyebalkan darimu yang selalu bilang bahwa aku tidak akan bisa kuliah. Terimakasih untuk sahabat-sahabatku yang merelakan telinga mereka untuk mendengarkan cerita dukaku. Terimakasih semuanya. Tempatku untuk tiga tahun ke depan,

Komentar

  1. Pagi kak ..saya boleh nanya nanya lebih lanjut tentang sv ugm ini ga ya? Boleh minta kontak kaka? Saya juga mau daftar pbusmak sv ugm juga kak.. sebelumnya terimakasih kaa

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ternyata

  Terus berganti hari dan aku mulai menyadari betapa kami sangat lemah sekaligus sangat kuat di waktu yang sama. Anak perempuanku sedang dalam masa senang-senangnya mengucapkan kalimat yang Ia rangkai-rangkai sendiri. Terus bertanya ‘apa’ dan menjawab ‘tidak mau’ beberapa kali. Ia belajar untuk menemukan kata baru dan menggunakannya ketika bicara, sedangkan aku harus belajar untuk menyembunyikan beberapa kata yang kutau dan belajar untuk tidak mengeluarkannya. Perempuan khususnya, bisa mengeluarkan pengetahuan kosa katanya menjadi kalimat baru yang berdampak besar dalam waktu cepat ditambah dengan ekspresi khas untuk meyakinkan lawan bicaranya. Menjadi seorang perempuan membuatku paham kenapa keputusan jatuh talak mutlak ada pada laki-laki. Maryam, adalah pengharapan kami agar kelak Ia hidup dengan terus menjaga dirinya, agamanya, dan lisannya. Ilma Sahila, semoga Allah memberinya kemudahan menuntut ilmu dan kemudahan-kemudahan lainnya sebagaimana kemudahan yang orangtuanya...

Hari Ini

  Selamat pagi Bulan Mei, rasanya sudah sangat lama. Lama yang membuatku lupa tentang bagaimana rasanya sakit kepala di meja kerja. Lama yang membuatku hari ini bertanya, apakah benar aku dulu juga bekerja seperti mereka? Sayangnya aku sudah benar-benar lupa. Tapi aku ingat sekali rasa lelah di masa-masa itu. Bina fisik persis setelah adzan subuh yang bahkan ayam-pun masih enggan mencari makan. Teriakan-teriakan menyebalkan, baju hitam-hitam, dan semuanya. Saat itu tugasku hanya harus belajar dengan sungguh-sungguh. Tak perlu sibuk mengisi portofolio dan menyusun map berisi surat lamaran kerja. Orang tuaku, tunggu sebentar lagi. Sedikit lagi kalian tak perlu menghitung-hitung uang untuk biaya bulananku. Dan sedikit lagi aku akan mengenakan seragam dinas yang sangat ingin kalian lihat dariku sejak dulu. Seragam dinas berpangkat putih dengan brevet Samapta mengkilap. Lengkap dengan nametag berisi satu kata namaku yang terpasang di sebelah kanan. Seragam dinas itu, seragam...

Rumah

Tidak pernah ada yang memberitahuku bahwa sekali aku melipat baju ke dalam tas besarku untuk sekolah, maka aku tak akan pernah pulang seperti dulu lagi. Belum pernah aku mengatakan selamat tinggal dengan benar pada kamarku karena aku sendiri belum terlalu yakin apakah kini aku sudah benar-benar pergi. Pergi lama dan hanya datang sesekali seperti seorang tamu di rumah sendiri.  1. Sagan, Depok (Sleman) Tidak bisa dipungkiri, saat itu aku takut sekali. Bukan takut gelap atau takut karena sendiri, bukan. Tapi kali ini rasanya berbeda saja. Saat di rumah, selama apapun aku sendiri, aku tau orang tuaku pasti akan pulang. Sekarang lain lagi, mau sebelum tidur ataupun sudah membuka mata. Mau di dalam atau di luar pintu. Mau hari ini atau minggu depan, aku sendirian. Sendiri dengan judul buku yang baru. Buku untuk menulis apa-apa saja yang kusembunyikan dari orang tuaku yang jauhnya enam jam kereta api dari sini.  Laptop itu sudah terlalu lama menyala. Seakan Ia tau bahwa aku perlu te...