Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari November, 2020

Bunga Katanya

Berkata darinya bahwa aku tidak takut ketinggian Matikan lampunya, akan kau dapati aku lurus tenang menyeberang jalan Mata ayahnya bilang jangan lagi lewat trotoar di jam-jam malam Kemudian Ia semakin kuat lantas terlepas diam-diam           Mawar , lebih berduri tapi ditanam juga. Kasa terbaik untuknya yang terus mengaku peka cahaya. Namanya juga bunga, meski diremuk nyatanya tetap wangi-wangi saja.         Wanita , tidak pernah menjadi lagu lama bagi Ayah dan Ibunya. Semakin sembunyi semakin dunia ingin menarik kain hijabnya. Kecil dulu musik-musik tidak berarti demi mendengar tangis dan bau sabun dari kening dan telapaknya. Tumbuh remaja dengan duri kemudian mekar juga kelopak-kelopaknya. Tak lama lagi menjadi rumah bagi kasih suaminya, menjadi surga bagi anak-anaknya, dan menjadi kursi untuk duduk kedua orangtuanya. Sama saja, Ia tidak tau akan bersemi di teras siapa, tapi yang pasti, takdir Tuhannya selalu baik dan akan indah p...

Empat Kursi

. (Tulisan keempat puluh, sebuah konotasi)      Selamat pagi dariku yang terus belajar duduk sendiri di kursi. Sarapan hari ini masih sederhana bersama kuah-kuah panas berisi hati Ibu yang lelah sendiri. Tak lupa juga kopi Ayah yang asapnya selalu berkata semua akan baik-baik saja. Meja telah rapi dengan piring yang juga tertata. Sesekali gelas pecah dan kuah-kuah tumpah juga. Tapi kami duduk lagi dan tetap makan bersama-sama. Lihat, kursi ketiga mulai menjadi-jadi. Dibaliknya meja yang penuh dengan empat piring nasi dan seribu upaya mereka. Lalu bersama sepatunya ia lama pergi sendiri. Tidak ada salam lebih-lebih janji untuk kembali. Kemudian ia jauh merdeka dengan kebodohannya, bernyanyi bersama tikus air di pipa karat ujung kota Nyaring, keras, berkerak. Hari itu aku marah sekali. Kurapikan piringnya kalau saja aku tak ingat siapa namanya. Dipecahnya gelas, dibaliknya meja, lalu kami hampir tidak menelan apa-apa. Hari itu aku marah sekali. Besok pagi kursimu ...