Dari dulu setelan Mbok selalu bagus bagiku yang hanya kemana-mana dengan baju warna coklat dan hitam. Dengan kebaya warna cerah entah ungu atau merah muda serta bawahan jarik batik, Mbok biasa duduk di teras rumah Paklik Alimin setiap pagi. Pembawaannya teduh, banyak tersenyum, dan selalu wangi. Aku selalu memilih tidur bersamanya ketika kesana karena kasurnya yang selalu dingin. Beberapa kali ia mengajariku menulis aksara Jawa yang berulang kali tak paham-paham juga. Awalnya masih pelan dan daya pikirku masih bisa mengikuti, makin lama Mbok seperti menjelaskan semuanya pada dirinya sendiri. Level naik menjadi kelas intermediate dan mungkin sejenak ia lupa bahwa aku masih SD. Sholat tarawih di masjid, Mbok selalu di baris paling depan. Tentu saja aku dan teman-temanku memilih baris paling akhir atau minimal di pinggir agar mudah pulang dan paling pertama mengambil sendal. Sebelum baris Mbok diblokade, ia biasa memberiku atau dengan kata lain aku yang meminta darinya uang koin lima...