Dari awal sudah bakatku untuk tidak suka bertanya-tanya. Tidak pernah aku bertanya kenapa harus makan siang bukannya tidur atau bermain saja. Dan tidak pernah juga aku bertanya kenapa kami hanya di sini bertiga. Saat itu dunia rasanya adil sekali. Meskipun lebih sering bermain sendiri, tapi tangan dan kakiku tidak pernah mengenal sakitnya pukulan sapu. Saat itu kiri kananku adalah orang-orang baik. Aku mempercayakan awal hari hingga tidurku pada mereka semua. Bersama mereka, hidupku pasti baik-baik saja. Mbah Uti berteriakpun, aku menyukainya karena teriakan itu pasti untuk kebaikanku. Agar aku mau pulang, agar aku mau makan siang. Saat itu, aku tidak bertanya jam berapa Ayah akan pulang. Aku yakin bahwa siang atau sore, Ia pasti segera datang dan bertanya bermain apa aku seharian. Dengan bermain kertas kartun yang sama, kupasang dan kulepaskan lagi berulang kali. Saat itu meskipun aku sering ditinggalkan, tapi aku tau bahwa kakakku pasti kembali. Meskipun lama Ia bermain dengan seba...