![]() |
| Beberapa muatan terakhir mereka |
Malam itu aku dan Silvi saling lirik setelah mendengar salah satu dari kami akan bergabung bersama mereka. Artinya, akan segera ada pegawai wanita pertama untuk ruangan itu. Awalnya kupikir akan bagus juga di situ, sering kemana-mana dan memakai baju apa saja. Kemudian kembali ke kantor membawa banyak muatan dan seketika menjadi pusat perhatian siapapun yang ada di sana seperti pengalaman saat PKL tahun 2018 lalu.
Kami berenam memilih dua pilihan seksi sampai malam benar. Kalau saja aku hari ini mampu melihat diriku saat itu, akan kuhapus dengan paksa pilihan konyol di kertas itu. Atau kutarik saja kertasnya, atau apapun yang jelas jangan sampai saat itu aku dengan dengan kemeja putihku memilih tempatku saat ini.
Lihat, mereka tinggi-tinggi sekali. Dulu rata-rata berambut lebih panjang dari garis telinga atau sebahu. Saat orientasi seksi dulu, ingat betul ketika Mas Brian duduk di depan kami dengan setelan kaos merah berkerah dan bawahan celana kain. Ia duduk bersandar kursi dan menggigit camilan dibungkus plastik dengan santai meskipun posisinya menghalangi pintu masuk.
“Siapa dia?” kataku, dalam hati tentu saja. Kukira dia penduduk sekitar yang salah jalan sampai masuk ke ruangan. Entah dimana nametag-nya saat itu.
Mas Zhoga, satu-satunya pegawai dengan asal daerah yang sama. Juga satu-satunya pegawai di bagian kami yang rajin memakai ikat pinggang dan membaca buku kemana-mana. Gaya rambutnya terus berubah, kadang dikucir kadang diurai. Buku yang ia baca juga macam-macam, mulai dari Andrea Hirata seperti saranku, Tereliye, sampai Legenda Bumi Ken Dedes ia baca juga. Apapun, asal bisa dibaca saja. Masuk ruangan siang-siang selalu dengan tangan kirinya yang menggulung buku tebal tanda buku itu ia bawa kemana-mana, saat buka segel mesin sekalipun. Benar-benar, meskipun aneh karena agak tidak selaras dengan gaya penampilannya tapi hobinya adalah membaca. Satu lagi, setiap hari selama hari kerja dalam seminggu pasti ada satu dua paket untuknya. Kami sudah tidak heran lagi dan sudah mulai pandai menebak isinya, belanja piranti istri dan anaknya.
Kemudian ada Bang Fathur asal Sulawesi yang selalu tanpa beban bicaranya,
“Senin ini meja harus pindah sebelum kupatahkan lehernya ya,” katanya, demi melihat meja kami bertiga berhimpitan tak karuan di ruang depan.
Kami semua bertiga belas, masih banyak dari mereka yang belum ditulis. Hanya saja Nota Dinas Rolling Pegawai itu sudah turun awal bulan ini. Sudahlah, rolling hanya tentang pindah kursi dari ruangan ini ke ruangan yang lainnya. Tapi dengan melihat Bang Septino membersihkan mejanya, berarti perahu kami kehilangan salah satu layarnya. Rata-rata mereka sudah tiga sampai lima tahun di bagian ini, veteran boleh dibilang. Termasuk Bang Septino, senior terbaik asal Pematangsiantar.
Beban pikirannya sepertinya berat sekali. Dulu ia bisa enam jam sekali duduk, laptop menyala non stop, kertas di kanan kiri, buku Undang-Undang kusut di depan, dan asbak lengkap dengan remah rokoknya. Ia selalu menepikan asbaknya jauh-jauh ketika aku mampir untuk bertanya tentang banyak hal. Sampai suatu ketika Bang Septino beberapa kali izin check up karena dirasa kesehatannya mulai tidak baik-baik saja.
"Lihat nih, anak saya makan Better yang dimakan coklatnya aja", katanya sambil menunjukkan layar video call-nya.
Keluarganya jauh, sudah berapa bulan ia mencari-cari tanggal untuk pulang. Hari ini, ia jauh lebih baik dengan dietnya yang cukup sukses dan membuat Pak Ako memberinya kaos olahraga gratis khusus bertuliskan nama kantor.
(Bang Sep, semoga ga berantakan ini berkas pas ditinggal. Sehat-sehat ya, Bang, biar bisa makan martabak manis lagi)
Sebelah kiri mejaku ada Annas, teman satu angkatan yang sangat bersih mejanya. Baginya, bersih adalah kosong. Kosong karena semua barangnya dipindahkan ke lokerku. "Titip," ia bilang. Meskipun ia sering merusuhiku, bisa dibilang tata administrasinya sangat rapi. Sangat cocok dengan Mbak Dita ketika membahas AOA sampai drama-drama korea terbaru lainnya. Kawan lainnya adalah Mas Rana, ah cukuplah aku dengan yang satu ini.
Bang Septino, Mas Rana, Mas Zhoga, Mas Anggarda, dan Annas putar tempat dengan Mas Triyo, Mas Ulil, Mas Frendi, Mas Juno, dan Refangga. Aku masih di tempat yang sama, hanya saja harus sedikit menggeser meja untuk memberi sela kepada Mas Triyo dan Refangga.
Aku tau rasanya mempunyai satu saudara perempuan di rumah, tapi begini ternyata jika bersama sekaligus sembilan saudara laki-laki di ruangan. Meja tak karuan, akuarium di ruang penyimpanan, dan jangan lupa dengan hobi merakit figur dan pedang-pedangan untuk pajangan. Tapi tetap saja, terima kasih atas kerja kerasnya.
![]() |
| Cr: kami bertiga dengan Yuna sebagai komandannya |
Masih di bulan yang sama, hari Jumat pula, berkas itu turun juga: UP.9
Kali ini bukan main-main, Pak Rahmanta tertulis Makassar di tempat penugasan barunya, Pak Indra di Kediri, dan Bu Fhierda di Surabaya.
Pak Indra itu lucu sekali. Banyak diam tapi sekali menimpali satu ruangan semua tertawa. Masih berjiwa muda yang ikut membeli sepeda meskipun sepertinya tak dipakai-pakai juga. Maaf kalau meja saya kosong siang-siang, Ndan. Tidur siang sayanya haha. Terima kasih atas semua arahan dan selamat bertugas di tempat baru. Hari ini ada-ada saja, perpisahan para Kepala Seksi tapi tau-tau lampu mati. Pun genset juga mengalami bocor solar. Aku dan yang lainnya yang mengikuti acara via zoom meeting hanya menebak-nebak saja apa yang terjadi di Aula. Gelap, layar gelap dan tiba-tiba mereka bertepuk tangan.
Aku selalu terkesan dengan cara penyampaian Pak Rahmanta. Awal dulu, lumayan terkejut karena beliau mirip sekali dengan Ayah di rumah. Beliau selalu menemukan kata yang sudah lama tersendat di pikiranku. Selalu mampu menyampaikan dan mengutarakan maksudnya dan maksud kami juga. Kapan ya Pak terakhir kali kita tidak sengaja berpapasan di terminal Pamekasan? Selamat bertugas, Pak. Buru-buru sekali, padahal target WBBM masih tahun depan dengan Bapak sebagai ketuanya.
Bu Fhierda, Ibu kami semua. Paling trendi setelannya dan paling rajin mengisi laci meja dengan jajanan dan camilan. Alhamdulillah Surabaya, Bu. Di BLBC Kelas II Surabaya ada Irma dan Wira, kawan saya. Dulu kami berenam OJT di sana sampai pada hari Jumat juga nama empat dari kami harus pindah ke Juanda dan Madura. Selamat ya, Bu. Akhirnya bisa lebih mudah pulang pergi ke rumah.
Pak Saleh, kabar baik, Pak? Sudah lama ya. Scrap frame-nya masih menempel dengan baik kan? Dulu kami bertiga lembur sampai tarhim subuh terdengar. Benar-benar sampai pukul empat pagi. Dikebut satu malam kemudian saya ambil cuti, haha maaf, Pak. Semoga selalu sehat dan tetap rajin bermain tenis lapangan meskipun rivalnya bukan Mas Parul lagi.
Tersisa Pak Ako dan Pak Yanuar sekarang. Tidak apa-apa, aku hanya perlu belajar lagi dengan banyak perpisahan lainnya. Kemarin mereka, hari ini Pak Indra, bisa jadi kapan hari nanti namaku yang ada di Skep Mutasi itu. Aku adalah juara satu untuk melupakan sesuatu. Namun sebelum itu, kutulis dulu di sini untuk bahan bersyukurku suatu hari.



Komentar
Posting Komentar