Ayah bilang kami adalah dua bersaudara dengan aku di urutan kedua. Kakak pertamaku adalah seorang perempuan musiman yang seketika menjadi laki-laki saat berkelahi. Sampai kelas tiga SMA, aku tak lain adalah perpanjangan dari ekornya. Entah bagaimana awalnya yang jelas apapun yang ia suka akupun juga sama. Apapun yang ia benci aku juga membencinya. Bagiku apapun kalimat darinya, kakakku, adalah sebuah perintah dan sugesti yang harus diikuti. Barangku adalah barangnya, dan barangnya tetap menjadi barangnya saja. Meskipun ia buruk reputasinya bagiku, tapi Mbak Ul tetap menjadi satu-satunya saudara yang kuhargai. Juga, meskipun ia sering memaki dan sangat benci mengantarku sekolah, aku yakin ia akan tetap mencariku bila terlalu lama tak pulang-pulang juga. Kami memang dua bersaudara, tapi aku tau urutanku sebenarnya bukanlah yang kedua. Di posisi tengah itu seharusnya ada seorang yang mungkin akan mempunyai hobi yang sama dengan teman-temannya, sepak bola. Kalau saja Tuhan mengi...