Seandainya boleh, maka kami cukup percaya diri untuk mengatakan bahwa enam dari sepuluh orang pasti benci Hari Senin. Tentu saja, enam dari sepuluh itu adalah kami sendiri. Tidak paham juga siapa empat orang sisanya. Bigas Badai, Iyin, Silvi, Refangga, Annas, dan Yuna. Nama sedemikian itu urut bukan berdasar pada alasan kasta, strata, atau harga karcis bis masing-masing di Purabaya. Lebih kepada menghargai dari tertua sampai yang paling muda usianya. Jadi, ada apa dengan senin? Karena sejak di sekolah dasar senin adalah hari Upacara Bendera. Hari ketika belum bisa menerima bahwa minggu sudah menjadi pagi dan PR berhitung belum juga terisi. Belum lagi tentang dasi yang entah apakah aku punya atau tidak yang jelas saat itu masalah hanya tentang dasi dan topi. Sepuluh kali beli sepuluh kali juga keduanya hilang. Sepuluh kali hilang sepuluh kali juga kena pajang di samping tiang. Saat itu, ketakutan kami hanya seputar perkalian. Tanpa paham bahwa masih ada Desil, Kuartil, Persentil,...