Senin itu kami melihat kami belasan tahun yang lalu. Aku ingat, selempang petugas upacara yang digunakan mereka saat itu terlihat terhormat sekali. Berbeda denganku dulu para siswa sisa yang berdiri di barisan belakang paduan suara. Menyanyi tak menyanyi pun upacara akan tetap selesai. Tidak berpengaruh. Pun tidak terlihat. Satu tas punggung dan satu lagi tas kecil sengaja ditinggalkan ibu itu di mushola. Ia menggandeng anaknya yang sudah memasang raut naik turun tanda tak mau sekolah. Darinya kulihat ia ingin pulang saja, kelihatannya sudah terlalu terlambat ikut upacara. Upacara, ah. Dasi yang tertinggal, topi yang hilang, dan banyak lagi. Barisan mereka aneh sekali. Sama seperti barisanku dua belas tahun yang lalu. Para siswi banyak yang lebih tinggi dan berbaris dari tinggi, rendah, sedang, tinggi, tinggi lagi, sampai ke yang paling kecil. Ia yang paling kecil itu terserah saja tentang apa yang terjadi di depan, melompat percuma pindah ke depa...