Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Oktober, 2019

Kepada Kalian

Pukul 22:42, aku teringat kalian.  Dari kalian aku pun mengingat aku. Kalian, Duduk di kursi yang disambung dari uang mereka. Uang warna-warni yang ingin mereka tunaikan untuk tas sekolah anak-anak mereka. Uang yang ingin ditukarkan dengan atap berharap wanita dan anak-anaknya bahagia dan aman-aman saja. Tapi tidak seindah itu. Uang itu berakhir di kalian. Untuk kalian. Kalian, Yang tidur di atas uang mereka. Berjalan tegak membeli wibawa dengan menginjak tangan mereka. Duduk di sana pasti nyaman ya? Kemana-mana dengan selisih lebih rupiah mereka yang kalian tuntut dari negara. Berjalan bergaya dengan kaca jam berkilat yang tak akan rengat selamanya. Gagah sekali. “ Tuhan, masaku dulu mudah sekali. Pagi-pagi aku mengingatmu dalam langkah ke meja kerjaku. Jalanan boleh terik, tapi tidak dengan ruanganku. Tuhan, sekarang sebelas siang. Maka izinkan aku tidur sebentar. Lalu bangunkan aku untuk makan siang.” “Tuhan, aku kesana dengan uang mereka. Begitu...

Madura Kelihatannya

Mereka bilang Madura sangat panas. Tapi sepanas apa? Apakah sepanas kamar kos di Bintaro yang harus disiram air dulu kasurnya lalu menyalakan kipas level tiga agar bisa tidur?  Apakah lebih panas dari Surabaya yang dari jauh terlihat fatamorgana air menggenang-genang di tengah jalan saat siang hari? Setelah enam bulan lebih di sini, mungkin aku sudah bisa menjawab 'Ya'. Menuju Talango dan melampauinya Bulan Maret di Kalianget, langit bersih sekali. Pukul sepuluh pagi, warna langit biru cerah hampir-hampir putih. Mendengar klakson-klakson mobil yang berbaris depan kantor untuk menyeberang ke Talango membuat kami lebih ingin lagi untuk membeli es.  Anehnya lagi saat itu tidak ada angin. Sampai ketika air deras turun di halaman, butuh beberapa detik untuk kami sadar bahwa saat itu sedang hujan. Tidak mendung. Tidak pula dingin. April di Pamekasan diawali dengan berkeliling gang untuk mencari kosan. Kamar kos di sini lebih aneh lagi. Sering aku tidak ...