Pukul 22:42, aku teringat kalian. Dari kalian aku pun mengingat aku. Kalian, Duduk di kursi yang disambung dari uang mereka. Uang warna-warni yang ingin mereka tunaikan untuk tas sekolah anak-anak mereka. Uang yang ingin ditukarkan dengan atap berharap wanita dan anak-anaknya bahagia dan aman-aman saja. Tapi tidak seindah itu. Uang itu berakhir di kalian. Untuk kalian. Kalian, Yang tidur di atas uang mereka. Berjalan tegak membeli wibawa dengan menginjak tangan mereka. Duduk di sana pasti nyaman ya? Kemana-mana dengan selisih lebih rupiah mereka yang kalian tuntut dari negara. Berjalan bergaya dengan kaca jam berkilat yang tak akan rengat selamanya. Gagah sekali. “ Tuhan, masaku dulu mudah sekali. Pagi-pagi aku mengingatmu dalam langkah ke meja kerjaku. Jalanan boleh terik, tapi tidak dengan ruanganku. Tuhan, sekarang sebelas siang. Maka izinkan aku tidur sebentar. Lalu bangunkan aku untuk makan siang.” “Tuhan, aku kesana dengan uang mereka. Begitu...