Langsung ke konten utama

Was an Introvert



 Minggu,
tolong jangan cepat pukul lima sore.


jangan lihat aku, kumohon semoga bukan aku yang dipilih, tolong yang lain saja, bisa tidak aku teleportasi langsung ke kamar, aku ingin.. kabur.

ketika masih menjadi gelembung-gelembung air di rahim, Allah tidak memberiku pilihan mau jadi apa aku nanti. Tidak ada tombol ekstrovert untuk kutekan. 

"I am a human too." (Dinding Bintaro, 2017)

Tulisan sticky notes yang berjejer di dinding itu sengaja ada untuk kubaca setiap pagi. Untuk mengingatkan bahwa aku juga manusia. 

Entah sejak kapan tepatnya, aku mulai tidak menerima tamu. Aku tidak membuka pintu untuk orang lain, dan pura-pura lenyap saat ada yang berteriak memanggil nama orang tuaku di teras sana. Televisi yang mulanya bervolume sekitar sebelas langsung berubah menjadi mode senyap. Saat mereka mulai menggedor pintu dapur belakang, aku mulai merasa terancam. 

Kelas tiga SMA, tasku mendadak digeser ke arah kiri dan mereka para lelaki itu dengan bahagianya menempati kursi yang semula akan kududuki di hari pertama sekolah. Dan 'bahagia'-nya lagi, kursi yang tersisa hanya dua tepat di depan meja guru. Ketika aku resmi menjadi baris depan di kelas, para guru seolah-olah melihatku sebagai seorang yang bersemboyan menjadi manusia sukses, sehat, dan berani. Seolah-olah mereka menganggap kami barisan depan seperti para pejuang kertas ujian yang ingin masuk kampus setara California University atau minimal Universitas Indonesia. 

"Siapapun, bisa tolong selamatkan aku dari sini?"

Ketika guru ekonomi mulai membaca teori perdagangan internasional, aku diduga arisan Tupperware oleh beliau. Padahal aku hanya menoleh ke belakang, sudah. Hanya menoleh dan bernapas. 

Ketika guru geografi mengetes kami tentang siklus presipitasi, mau tidak mau akulah yang paling pertama dilihat oleh matanya karena posisi kursiku sangat tidak strategis. 
Saat guru biologi menyuruh kami untuk menjawab soal pilihan ganda secara urut dari bangku depan ke belakang, aku kebagian nomor dua tanpa tau mana jawaban yang bisa menyelamatkan namaku. Setiap hari saat tiba di kelas, aku ingin segera menutup mata dan langsung bel pulang sekolah ketika membukanya kembali.

Setahun di Yogyakarta, aku menghindari jalanan ramai. Pria-pria berkemeja di lahan parkir kampus itu terlihat seperti para begal bagiku. Jalur di belakang gedung rasanya lebih aman meskipun harus memutar arah dan naik ke lantai dua terlebih dahulu. 

Jalanan lengang dengan pohon tinggi di kiri kanan serta semilir-semilir angin saat itu seolah mendukungku untuk syuting video klip di sana. Ya, aku suka jalanan sepi.

Presentasi:
Meskipun aku menjawab jadi Artis sebagai cita-cita masa kecilku, tapi nyatanya nyaliku tidak sepadan untuk berdiri di depan. Layar proyektor, dosen, dan orang-orang yang duduk di depan itu seperti lurus melihat dan bersiap untuk menertawaiku. 

Namun ketika kutarik napas dalam-dalam, ternyata mereka lebih banyak yang tidak peduli dan terserah aku dan kelompokku mau bilang apa di sini. Tangan sumber airku ini selalu mengeluarkan keringat sampai menetes-netes setidaknya sebanyak seperlima gelas ukur. Bayangkan ketika kulit basah itu memegang mikrofon untuk presentasi. Mikrofon otomatis licin, jatuh, atau kemungkinan lain tanganku yang tersengat listrik.

---
Namun keadaan akan sejenak berubah setengah lingkaran penuh ketika bersama teman-teman. Kalian akan mendengar tawaku yang paling keras dan paling tidak ada diamnya. Aku masih punya stok seribu topeng untuk melakukan itu.

Kira-kira begini:

Bawa aku ke tempat redup dan sejuk, lalu pulanglah.
sendiri lebih baik sekarang.
aku ingin diam untuk sehari,
bahkan beri aku seminggu bila ada.
kaki berjalan tenang tanpa ada yang melihat rasanya menjadi cita-citaku kini.

Aku tidak suka pergi ke konser.
mereka berisik
melompat-lompat, berkeringat, lalu berfoto.
Aku tidak suka foto.
Isi galeri handphone-ku lebih banyak kucing warna-warni dan quotes kehidupan.
quotes untuk memberiku semangat di atas bumi yang hiruk pikuk ini.

Aku tau kalian berpura-pura.
dan kalian juga harus tau, bahwa aku lebih berpura-pura lagi.
Tak perlu menunggu waktu untukku marah.
aku hanya akan diam saat darahku hampir ke ubun-ubun.
setelahnya lalu pergi.
kemudian akan kau jumpai piring-piring pecah seandainya aku boleh melemparnya.

---
Tapi,
hitungan bulan ke depan rupanya tak terlalu mendukungku untuk sendirian saja. Mulai kurikulum 2013, menteri pendidikan meminta kami untuk lebih banyak berdiri di depan menjelaskan teori yang bahkan kami tak jelas tentang itu. Sebelum kaku konyol, maka aku harus berlatih. Dan benar saja, presentasiku tetap tak layak tayang di depan.

Sampai 2019 kini, tak tau telah berapa kali aku harus maju ke depan. Entah untuk presentasi, menyiapkan kelas, atau menulis di papan. Heran sekali ketika melihat mereka yang langsung angkat tangan ketika para guru, dosen, pelatih, atau siapapun itu mencari relawan. Relawan sebagai ketua kelas, pengibar bendera, memberi opini, atau yang lain. Makan sayur apa mereka? apakah nasinya berwarna hijau? apakah ukuran usus kami berbeda? lalu apa yang membuat mereka bisa sedangkan aku masih hidup dengan keringatku saja?

Saat masih ingin berjalan dengan kakiku sendiri pun, aku sudah paham bahwa manusia pasti membutuhkan manusia yang lain. Aku masih meminta uang saku ke ibuku. Aku masih bermain dengan sepupu-sepupuku. Hanya, beri aku waktu untuk bernapas mencari oksigen sendiri.

Dua puluh tahun ini membuka mata bahwa aku tidak akan bisa selamat dengan aku yang tetap seperti itu. Baiklah, aku akan berdamai dengan jantungku sendiri.

Sekarang aku sudah menjadi manusia. Berbicara lepas dan maju ke depan dengan biasa saja. Tertawa dengan nada yang sama dengan yang lainnya. 

Saat aku melihat banyak diriku yang dulu, setidaknya aku paham bahwa mereka sebenarnya juga ingin berbicara. Tapi sayangnya orang-orang tak terlalu sering menoleh padanya karena mengira tak ada topik untuk dibahas. Tak ada bahan untuk ditertawakan. Tidak, itu salah. 

Jangan iba ketika melihat mereka hanya diam selama makan, sendirian sepanjang jalan, dan hanya tertawa selebar gigi seri saat yang lain terbahak-bahak. Itu memang dunianya. Mereka baik-baik saja.
Dan akan lebih baik jika kalian mampu membuat mereka bicara lebih banyak padamu. 

Introvert hanya berbicara pada siapa saja yang ia pilih.
hanya tersenyum untuk apapun yang memang harus dihargai.
bila kalian menjadi alasan kata dan tawanya,
kalian hebat.


Komentar

Posting Komentar