“Lapor, kelas 2-09 jumlah 38, kurang tiga, hadir 35, keterangan tiga terlambat, siap menerima materi perkuliahan.” Aku ada di antara tiga yang terlambat itu. Selalu begitu bila kelas diadakan siang atau setelahnya. Langkahku masih sibuk berjalan di trotoar sektor lima dengan perasaan bahwa dosen pasti akan memaklumi. Itu adalah hal turun temurun. Kalau kelas dimulai pukul 13.20, maka aku akan berangkat pukul 13.15. Untuk dosen-dosen tertentu, kalau kelas dimulai 13.20, maka aku akan berangkat pukul 13.20 itu juga. Namun lain untuk dosen yang satu ini, aku tak berani telat barang seperempat mili detikpun. Meskipun hanya gurauan, namun kalimatnya yang mengatakan bahwa yang telat harus lompat dari lantai tiga agak membuat prinsip telatku hilang. Suaranya yang tegas dan berkharisma itu, pernah hilang empat minggu dan membuatku diteror oleh mereka-mereka yang bertanya, “ada kelas nggak nanti?”, “dosennya masuk nggak?”. Begitu berulang-ulang selama empat pertemuan....